Posted by: chandrapratomo | 3 June, 2009

PERJUANGAN PEMUDA ISLAM

aku tak mau di sini
dimana kaki berpijak pada kesenangan duniawi
bukan di sini
bukan dikelilingi nafsu yang menzalimi

jalanku
adalah jalan perjuangan
yang penuh onak dan duri
yang jauh tak berujung

mengharap senang dalam berjuang
bagai punduk merindukan bulan
bagai penghuni-penghuni goa yang terlelap tidur
tak tahu kapan kan terbangun

perjuanganku
bukan hanya untuk diriku
tapi negeriku
juga agamaku

untuk rakyat-rakyat tua di kolong jembatan
untuk anak-anak kelaparan di pinggir jalan
untuk tiap-tiap nafas yang mengalir lambat membasahi angkasa
untuk hati-hati yang merindukan adanya keadilan dan kesejahteraan

aku disini tak sendiri
ada hati yang menemani
ada kawan yang mengerti
ada Allah yang meridhai

demi matahari dan sinarnya pada pagi hari, demi bulan apabila mengiringinya
demi siang apabila menampakannya, demi malam apabila menutupinya
biarkan raga ini letih sampai manusia seperti laron yang berterbangan
biarkan jiwa ini lelah sampai gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan

aku hanya takut akan kemurkaan-Mu ya Allah!
takut berada dalam siksaan angin yang panas dan air yang mendidih
dan naungan asap yang hitam kelam
tidak sejuk dan tidak pula menyenangkan

biarkan perjuanganku ini kan jadi saksi atas tanggung jawabku di muka bumi
biarkan perjuanganku ini sebuah awal dari kemuliaan di sisi-Mu ya Rabb
perjuanganku ini
semoga terbalaskan dengan manisnya rahmat-Mu

karena bagi kami
hanya ada dua pilihan
hidup mulia
syahid di jalan-Mu

Posted by: chandrapratomo | 17 November, 2008

Sosiologi – 1

Apa itu sosiologi?

Menurut bahasa, sosiologi berasal dari kata socius dan logos.

Socius = kawan

Logos = kata

Jadi, sosiologi adalah sebuah ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang masyarakat, termasuk semua komponen yang ada di dalamnya.

Dalam buku Sosiologi SMA untuk kelas X[1] ada beberapa definisi mengenai sosiologi, yaitu :

· Herbert Spencer mengemukakan bahwa sosiologi mempelajari tumbuh, bangun, dan kewajiban masyarakat

· Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi mengatakan bahwa Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.

· Max Weber mengemukakan bahwa sosiologi mempelajari tindakan-tindakan sosial

Sedangkan menurut Koentjaraningrat[2], “sosiologi selalu lebih memusatkan perhatian kepada unsur-unsur atau gejala khusu dalam masyarakat manusia.”

Mengapa sosiologi dapat bertahan sebagai ilmu pengetahuan?

Mengapa suatu hal bisa dikatan ilmu pengetahuan? Ilmu pengetahuan berarti ilmu tersebut berdasarkan atas penelitian dan data-data yang nyata. Sosiologi dapat bertahan sebagai ilmu pengetahuan karena memiliki metodologi dalam penelitiannya. Selain itu, sosiologi selalu berusaha menyajikan data-data yang empiris dalam penelitiannya. Sosiologi bersifat teoritis, kumulatif, dan non-etis.

Selain itu, mengapa sosiologi masih bertahan sebagai ilmu pengetahuan sampai sekarang? Hal ini dikarenakan sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat, dari zaman dahulu sampai sekarang, masyarakat terus mengalami perubahan, hal ini mengharuskan para sosiolog terus berupaya melakukan peneilitian-penelitian dalam rangka terus memenuhi pengetahuan tentang yang masyarakat yang selalu berubah itu.

Karena terus diadakannya penelitian oleh para ahli, maka semakin banyak teori-teori yang akan muncul, serta selama ada masyarakat, maka ilmu sosiologi akan terus berkembang. Sosiologi akan terus hidup sebagai ilmu pengetahuan sampai tidak ada lagi manusia di dunia ini.

Kata-kata kunci sosiologi

  1. societal = masyarakat
  2. social statics = bagian sosiologi yang mewakili stabilitas
  3. social dynamics = bagian sosiologi yang mewalkili perubahan
  4. sociological imagination = pendekatan yang memungkinkan kita untuk memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan keduanya (Mills)
  5. socialization = proses melalui mana seorang anak belajara menjadi seorang anggota yang berpastisipasi dalam masyarakat (Berger)
  6. institution = suatu struktur status dan peran yang diarahkan ke pemenuhan keperluan dasar anggota masyarakat (Kornblum)
  7. kelas sosial = melibatkan perpaduan antara ikatan ekonomi, pekerjaan, dan pendidikan
  8. stratifikasi sosial = perjenjangan masyarakat menjadi hubungan atasan-bawahan atas dasar kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan

Berpikir kritis, melakukannya, serta manfaatnya

Berpikir kritis berarti kita tidak mudah menerima suatu hal yang diberikan kepada kita. Berpikir kritis berarti kita mendalami lebih dalam dari apa yang terlihat dari suatu hal. Berpikir kritis berarti kita mencoba menggali apa yang ada dibalik suatu hal, penggalian itu tentunya bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang ada di dalam suatu peristiwa, dengan begitu kita akan menemukan hal-hal baru yang mungkin tidak akan kita terima bila kita tidak berpikir secara kritis.

Bagaimana melakukannya? Untuk bisa berpikir secara kritis, kita harus bisa mengubah pola pikir kita dari menyerap semuanya menjadi menyaring semuanya. Menyaring suatu hal bisa didapat dari membuat daftar pertanyaan. Apa, kapan, dimana, siapa, kenapa, dan bagaimana? Dengan membuat daftar pertanyaan, kita akan menjadi penasaran terhadap suatu hal, lalu kita akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, baik melalui proses bertanya dan membaca bahan-bahan lain yang berkaitan.

Banyak manfaat yang bisa kita dapat dari berpikir kritis :

  1. Tidak mudah dibohongi
  2. Mendapat lebih banyak pengetahuan dari proses mencari
  3. Menjadi orang yang berfikir inovatif dan jauh kedepan
  4. Meningkatkan daya analisis dengan bertanya dan membacalebih dalam

Contoh berpikir kritis?

Tahun depan, rakyat Indonesia akan menghadapi pesta demokrasi Pemilu. Ketika kita melihat sosok calon presiden, kita tidak boleh hanya melihat apa yang tampak dari kampanye-kampanye dan penyampaian visi dan misinya, tapi kita harus bisa mengkaji lebih jauh mengenai sosok tersebut. Kita harus bertanya dan mencari asal-usul pendidikan calon presiden, performa politik selama ini, kedudukan dalam partai, dll. Dengan bisa berpikir secara kritis, kita bisa menjadi pemilih yang baik, dalam artian kita benar-benar tahu siapa yang kita pilih, serta tidak menyesal ketika telah memilih. Bila semua rakyat Indonesia bisa seperti itu, tentunya pesta demokrasi akan menjadi ajang seleksi yang ketat bagi calon pemimpin bangsa ini.

Perbedaan berpikir orang awam dengan cara berpikir sosiologis

Perbedaan yang mendasar dari cara berpikir orrang awam dengan cara berpikir sosiologis adalah bagaimana mereka melihat suatu fenomena. Ketika orang awam melihat suatu fenomena, maka ia akan melihat hal itu secara biasa dan tidak kritis, mereka hanya melihat kulit luar dari suatu fenomena. Akan tetapi, dengan cara berpikir sosiologis, mereka akan melihat suatu fenomena secara kritis dan mendalam, mereka tidak hanya melihat suatu kejadian secara kulitnya saja, tetapi mencoba untuk melihat apa yang ada dibalik kulit tersebut. Cara berpikir sosiologis akan lebih melihat secara sejarah yang membentuknya, salah satunya dengan imajinasi sosial dari Mills.

Contoh kasus yang ada adalah masalah urbanisasi dari desa ke kota Jakarta (artikel terlampir). Orang awam mungkin akan sebatas melihat fenomena ini secara sekilas, selain karena kurang berpikir kritis, dan juga karena masalah ini sudah menjadi hal yang lumrah dari dulu, sehingga tidak kurang peduli dengan hal tersebut. Sedangkan secara sosiologis, hal urbanisasi semacam ini menjadi pokok bahasan yang kompleks, dan bisa mengarah kepada banyak pokok bahasan lainnya. Hal ini pertama-tama akan masuk bahasan studi penduduk, lalu dengan peningkatan penduduk secara nyata, akan menimbulkan kesenjangan sosial, penyimpangan, dll.

Menurut saya, urbanisasi di sebabkan banyak faktor, seperti kurangnya pendapatan bila bekerja di desa, sosialisasi komformitas orang-orang yang lebih dahulu urban terhadap penduduk desa, serta kurangnya pengetahuan masyarakat desa terhadap perkotaan.

Kurangnya pendapatan bila bekerja dikarenakan pemerintah yang kurang melihat kesejahtraan kaum petani. Kebanyakan pekerjaan yang ada di desa adalah pertanian dan peternakan, namun konsep pengatasan urbanisasi hanya berkutat pada pemulangan orang-orang ke daerahnya masing-masing (misal di kota Jakarta). Pemerintah kurang melihat aspek kesejahtraan petani yang ada di desa. Kalau pemerintah mau membeli hasil tani dari petani kita dengan harga tinggi dan pemberdayaan petani, siapa yang tidak tergiur menjadi petani?

Zaman dulu, masyarakat kota tentunya belum sepadat sekarang. Orang-orangyang terlebih dahulu urban tentunya mempunyai kesempatan berhasil yang lebih besar. Mereka yang telah berhasil di kota tentunya menyosialisasikan bahwa sangat enak bekerja di kota kepada masyarakat desa. Hal ini padahal hanya berdasarkan experimental agreement mereka masing-masing. Mereka sudah nyaman berada di kota, dan masyarakat desa jadi tergiur dengan indahnya kota, lalu makin lama proses itu mengakibatkan menumpuknya orang-orang di kota.

Selain itu, masyarakat desa kurang mengetahui seluk-beluk kota, karena hanya mendengar kabar dari experimental agreement saja, sehingga mereka dating ke kota tanpa persiapan yang matang. Hal ini tercermin dalam kutipan artikel yang terlampir. Seorang warga asal Kuningan, Jawa Barat yang terjerat razia di Jakarta mengatakan, “Saya tahunya ke Jakarta untuk kerja . . .” hal itu membuktikan minimnya pengetahuan orang-orang desa yang melakukan urbanisasi tentang perkotaan.

Sebuah masalah sosial

Salah satu masalah sosial yang ada di Indonesia adalah masalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Mengapa ini termasuk masalah sosial? Karena KDRT pada kenyataannya menjadi semakin banyak di Indonesia. Menurut data dari Komnas perempuan, pada tahun 2001 terdata ada 3.160 kasus. Pada tahun 2003, data yang berhasil dikumpulkan adalah 7.787 kasus, lalu pada tahun 2004 sebanyak 14.020 kasus.

Saat ini, kesadaran dari pihak pemerintah dan sudah mulai gencar untuk membahas masalah ini, hal ini sudah dimulai dengan pembuatan Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Kesadaran untuk melapor pun saat ini sudah mulai menampakan peningkan. Tetapi, masalah ini bagaikan fenomena gunung es. Entah masih seberapa banyak kasus-kasus KDRT yang terjadi di Indonesia. Yang menjadi korban KDRT adalah wanita. Hal ini didukung data tahun 2007 yang menunjukkan adanya 25.522 kasus KDRT yang korbannya adalah wanita yang ditangani oleh 215 lembaga, termasuk institusi penegak hukum, rumah sakit, dan organisasi masyarakat pengada layanan.

Apa rekomendasi yang bisa saya berikan? Saya lebih melihat hal ini sebagai dominasi kaum pria dalam rumah tangga, namun dalam konteks demoralisasi dan desakralisasi pernikahan itu sendiri. Kaum pria sekarang menjaid kurang menyakralkan proses pernikahan dan keluarga, sehingga terjadi KDRT. Kaum pria pun mengalami demoralisasi, moral-moral luhur yang dibangun sejak kecil, bahkan oleh ibu (yang tentunya wanita) tidak lagi melekat dalam tingkah lakunya.

Saya merekomendasikan untuk penanaman kembali nilai-nilai akhlak, budi pekerti, serta agama yang tentunya disampaikan melalui agen-agen sosialisasi keluarga. Saya lebih memilih langsung menangani masalah dari akarnya, yaitu keluarga. Walau KDRT semakin marak, toh bukan berarti keluarga yang harmonis berarti hilang. Anak-anak yang ada menjadi korban KDRT (baik langsung atau tidak) harus mendapat sosialisasi di lembaga pemasyarakatan agar tidak terjadi lagi hal yang serupa.

Kesadaran berumah tangga juga harus diterapkan pada siswa-siswi SMA dan kampus. Hal ini diperlukan karena pada dasarnya merekalah yang akan menjadi bapak-bapak dan ibu-ibui kedepannya. Sosioalisasi tentang kerukunan rumah tangga harus disampaikan secara menarik. Selain itu, pihak pers pun punya peranan penting. Tayangan-tayangan yang lebih mengarah ke keluarga yang damai lebih baik karena itu juga merpakan sosialisasi yang menarik untuk semua kalangan. Dengan melihat film tentang keindahan rumah tangga, maka orang-orang pun akan lebih positif dalam melihat sebuah rumah tangga, tidak hanya sinetron yang isinya konflik.

Membangun tulisan ilmiah dan review

Untuk membuat suatu tulisan ilmiah, terlebih dulu kita harus membuat kerangka tulisan ilmiah. Kita harus menentukan tema apa yang mau kita pilih, kemudian kita harus menganalisis permasalahan apa yang akan di bahas oleh kita. Kita juga harus melihat unsur-unsur yang ada dalam sebuah tulisan ilmiah, mulai dari pendahuluan, isi, serta penutup.

Unsur lain yang juga penting adalah masalah metode penelitian yang akan kita pakai. Metode penelitian yang akan kita pakai harus kita sesuaikan dengan maslaah yang dihadapi, waktu, serta objek penelitian kita.

Membuat sebuah tulisan ilmiah juga harus berdasarkan data-data yang kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan, jangan mengarang-ngarang data. Selain itu, ada juga konsep dua unsur dalam tulisan ilmiah yang mengacu pada Arnudet dan Barret (1984) yang di uraikan dalam “Karya Tulis Ilmiah Sosial ; Menyiapkan, menulis, dan mencermatinya.”[3]. Ada dua unsur dalam tulisan ilmiah, yaitu controlling idea dan supporting idea(s). Controlling idea adalah gagasan paling umum yang dinyatakan penulis. Pernyataan ini berfungsi sebagai pembatas masalah yang akan di bahas. Supporting idea(s) adalah gagasan atau informasi yang lebih spesifik tetang keseluruhan masalah yang di bahas.

Tentunya dalam membuat tulisan ilmiah kita harus menghindari plagiarisme dengan cara memberikan sumber kutipan dan sumber yang digunakan.

Sedangkan untuk review, kita harus bisa menerapkan konsep berpikir kritis. Kita harus memiliki kemauan untuk mendalami suatu hal yang akan kita review. Kita juga sebaiknya melihat suatu masalah dari berbagai pandangan dengan mencari sumber-sumber informasi yang berkaitan dengan masalah yang akan kita review.

Selain itu, untuk menghasilkan review yang baik, kita harus melihat apa yang ada di balik masalah tersebut Dalam kajian sosiologis, kita harus menerapka imajinasi sosial untuk menguak sejarah dan asal-usul dari suatu permasalahan yang ada. Review sangat dianjurkan untuk mengutip dari bahan lain, serta memasukan opini atau pendapat kita sebagai analisator masalah tersebut.


DAFTAR PUSTAKA


Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi . Jakarta: PT Rineka Cipta, 1990.

Suhardiyanto, T., dkk. Karya Tulis Ilmiah Sosial ; Menyiapkan, menulis, dan mencermatiny. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Sunarto, Kamanto. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI, 2004.

Suryawati, Juju, dan Kun Maryati. Sosiologi SMA untuk Kelas X. Jakarta: ESIS, 2004

Utorodewo, F.N., dkk. Bahasa Indonesia ; Sebuah pengantar penulisan ilmiah.

Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI, 2008.

www.hukumonline.com

www.okezone.com


[1] Maryati, K., dan Suryawati J. Sosiologi SMA untuk Kelas X. (2004:3-4)

[2] Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. (1990:29)

[3] Suhardiyanto, T., dkk, Karya Tulis Ilmiah Sosial ; Menyiapkan, menulis, dan mencermatinya. Hal 40-41

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.